Tadi dengar Imam Prasodjo di radio mengenai efektifitas kampanye dalam menjaring pemilih, jika kampanye “dadakan” diandalkan untuk menjaring massa sangat sulit.
Memang setelah 2 kali pemilu setelah masa reformasi, kini pemilu ketiga sejak saat reformasi sudah mulai terlihat kinerja para partai yang bertarung pada tiap pemilu, mungkin hanya partai-partai baru dengan tokoh-tokoh bukan baru yang belum terlihat justru punya kans lebih. Tapi partai lama yang beberapa anggota legeslatifnya terlibat korupsi sudah tak punya gigi lagi.
Kembali ke kampanye dadakan , sering ditanyakan pada para caleg berapa modal uang yang harus dikeluarkan untuk kampanye, ada yang jawab modal dengkul, modal popularitas sampai modul M-M an rupiah. Jika dulu hanya partai saja yang mengkampanyekan diri , kini para caleg juga berkampanye alias modal sendiri juga.
Bayangkan jika 1 partai saja ada 10 caleg, masing-masing harus mengeluarkan katakan 500 juta dikali 40 partai kalau tidak salah ya.
10x40x500 = 200000 juta atau 200 Milyar.
Bayangkan berapa omset percetakan pada masa kampanye ini, belum lagi iklan-iklan di media TV dan cetak . Output 200 Milyar itu jadi apa? Teringat juga saat pilkada Jatim di ulang , waduh….. berapa itu biayanya.
Kalau para politikus berfikir bahwa jika ingin membangun negara seharusnya siapapun pemimpinnya tak masalah asalkan dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Mengapa tak ada fikiran “kami merelakan kemenangan pihak lawan, tak perlu diadakan pilkad ulang, tapi mohon anggaran pilkada digunakan untuk renovasi sekolah, beasiswa pendidikan, pengobatan gratis atau subsidi BBM rakyat…. ” lumayan kan?
Uangnya jelas produknya , tapi dengan pengulangan duuh, kasihan deh rakyat ….. sudah hasilnya sama, buang-buang milyaran rupiah pula….
Sekarang idenya bagaimana kampanye minim biaya ? Atau kalaupun harus keluar banyak ada hasilnya, jangan hanya lomba banyak-banyakan pasang Baliho.
Anggaran negara atau pribadi untuk kampanye kebih baik dimasukkan dalam program kesejahteraan untuk rakyat yang lebih real.
Kalau usulan Mas Imam di Radio tadi lebih masuk akal, kampanye jauh-jauh tahun dengan program kerja real di masyarakat, jadi masyarakat bisa lebih mengenal bahwa caleg anu yang buat program itu….., kalau programnya jalan baik pasti dikenal baik, pepatah bilang tak kenal maka tak sayang.