Beberapa tahun lalu ketika seorang ustad terkenal berpoligami berbagai macam opini muncul di masyarakat, bahkan saat itu di beberapa stasiun TV poligami dijadikan topik beberapa acara dialog dan debat. Banyak yang pro dan kontra termasuk aku dan suamiku. Bagi seorang istri ujian yang paling berat dalam berumah tangga tentu saja jika suami berpoligami. Namun bagaimana beratnya ujian itu aku hanya bisa mengira-ngira saja, tentu dengan penghayatanku sendiri sebagai seorang istri dan ibu 4 anak.
Namun kisah nyata ini, yang kuambil dari nara sumber langsung membuka wawasanku bagaimana sesungguhnya tiap2 wanita bisa bersikap jika hal itu menimpa dirinya. Semua perasaan yang diungkapkan sahabatku ini, aku yakin sungguh beliau rasakan dan ungkapkan tanpa memandang bahwa dia harus menjaga imagenya sebagai seorang pelaku da’wah di lingkungannya. Tanpa bermaksud mendIskreditkan pihak manapun, karena dalam kisah ini mungkin ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Aku juga tak bermaksud mengumbar cerita sendunya untuk kepentingan pribadi, yang kulakukan hanya ingin menyampaikan pada para pembaca, ini adalah contoh nyata, “real story” bagaimana seorang perempuan bisa bersikap tentang poligami,dengan tingkat edukasi pelaku yang menengah ke atas, ekonomi menengah, juga tingkat pemahaman agama yang menurut saya sangat baik. Seperti iklan waspada demam berdarah atau anti narkoba, bisa kukatakan bahwa sesungguhnya poligami dapat terjadi pada siapa saja, yang menikah karena cinta, karena perjodohan baik terpaksa atau tidak, pada orang berpendidikan rendah, maupun profesor, pada orang yang berpengetahuan agama baik, maupun yang berpengetahuan agama minim, dengan orang berkemampuan ekonomi minimal maupun milyuner,dengan orang yang berwajah bak Nabi Yusuf ataupun berwajah seperti Sukrasesno (tokoh pewayangan adik dari Patih Sumantri yang terkenal buruk rupa sampai sang Kakak malu karenanya dan membunuhnya) , termasuk pada orang-orang terdekat yang sangat anda cintai, tapi peringatan akhirnya bukan “waspadalah” namun “Bersiaplah jika saatnya tiba”.
“Nikmati saja hidup kamu sama suamimu, untuk apa cemburu dengan orang yang sudah mati! Rugi tau!”ujar Ratih padaku.
Aku tersenyum kecut, betul juga ya cara sahabatku yang satu ini menyikapi perasaan cemburu. Pilihanku menikah dengan seorang duda beranak satu bukanlah pilihan yang umum diambil oleh seorang gadis, tapi itu yang kulakukan. Dan sebelumnya aku berfikir perasaan cemburu pada mantan istri yang sudah meninggal tak akan muncul dalam kamusku. Tapi nyatanya setelah rasa memiliki muncul, cemburu itu datang sampai membuat air mata berlinang-linang. Kini setelah bertemu Ratih rasanya hal itu jadi sepele dibanding dia menyikapi rasa cemburudan sakit hatinya karena suaminya berpoligami.
Lama aku tak pernah mendengar kabar sahabat SMP dan SMA ku yang satu ini, terakhir kudengar setelah 4 tahun menikah di usia yang relatif belia di masa itu ( 21 tahun ) dia belum juga dikaruniai keturunan. Tanpa bermaksud bersifat apriori terhadap pernikahan melalui perjodohan, bisa kujelaskan di sini Ratih memang menikah melalui sebuah perkenalan singkat tanpa cukup mengenal bagaimana watak dan tabiat sang suami. Sebagai seorang muslimah muda idealis yang berfikiran bahwa semua pria yang terbina agamanya mengamalkannya sebaik pengetahuannya, Ratih memutuskan jika hendak menolak lamaran seorang pria yang “Sholeh” dia harus memiliki alasan yang “Syar’i”.
Rudi, suami Ratih setelah melihat foto Ratih meminta pada Abang Ratih yang memang teman semasa kuliahnya untuk bisa melamar Ratih, tanpa harus berkenalan lebih jauh, nampaknya Rudy begitu yakin dengan pilihannya . Meski tak mengenal Rudy dengan baik dan orang tuanya berkeberatan, Ratih menyatakan bahwa untuk menolak lamaran Rudy, ia perlu alasan yang kuat. Ratih khawatir jika alasannya tak syar’i dia akan di hukum kelak jadi “perawan tua”.
(Tapi aku ragu Ratih akan jadi perawan tua karena yang kutahu meskipun tak terlalu cantik tapi dia orang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman, bahkan sebelum dia berhijab sewaktu SMA dia sempat punya teman pria dekat, akan tetapi setelah Ratih berhijab mereka putus dengan baik2 karena kesadarannya bahwa hal itu tak benar )
Sementara itu Rudi yang berusia 3 tahun di atas Ratih, berlatar belakang pendidikan sarjana dan sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta terkenal di bidang IT. Dan secara kasat mata dan logika memang dia terbina terus agamanya dengan senantiasa mengikuti kelompok pengajian rutin. Dan Ratih walaupun masih semester 6 merasa cukup dewasa untuk bisa berumah tangga. So Ratih memutuskan untuk menerima lamaran Rudy .
Inilah kisah kehidupan keduanya dengan latar belakang pernikahan seperti itu.
Melalui sebuah situs pertemanan, aku menemukan Ratih kembali. Setelah sebelumnya berbicara melalui telpon kami sepakat untuk bertemu, karena aku merasa dari perbincangan itu ia ingin menyampaikan sesuatu yang kurasa sedang dia pendam dari orang-orang selama ini. Ternyata baru kuketahui bahwa anak yang dia sebutkan dia miliki sekarang, bukanlah anak kandungnya. Setelah 2 tahun tak kunjung hamil Ratih memutuskan untuk melakukan berbagai pemeriksaan yang diperlukan untuk mengetahui fertilitasnya mulai tahap A sampai Z. Setelah diketahui tak ada yang salah ataupun kurang dengan Ratih barulah Rudy mau diperiksa. Dari pemeriksaan ternyata hasilnya diketahui bahwa sperma Rudy tak memenuhi standar fertilitas yang seharusnya. Dari sini sang suami merasa jatuh mental tetapi bertolak belakang dengan Ratih yang tetap saja menikmati hidupnya tanpa beban untuk bisa hamil. Sifat suaminya yang otoriter ditambah lagi mentalnya jatuh membuat komunikasi di antara keduanya buntu.Ratih dipaksa untuk bersikap sebagai seorang istri yang patuh pada suami apapun yang diperintahkan, termasuk ketika suami menyuruhnya untuk tidak sering mengunjungi orang tua Ratih. Hal ini jauh dari bayangan Ratih mengenai sosok pria muslim taat yang seharusnya menganggap istri bukan sebagai pengabdi semata tapi sebagai mitra sejajar suami. Meskipun keberatan, Ratih tidak protes karena dia sulit berargumen jika berhadapan dengan Rudy.
Sampai suatu hari 10 tahun setelah pernikahan mereka berjalan Ratih merasakan keanehan pada suaminya yang kerap membicarakan wanita teman sekantornya yang bernama Hanum, singkat cerita sang suami selama ini ternyata selingkuh dengan wanita tersebut. Mulai saat itu tiap pagi Ratih melepas suami ke kantor dengan fikiran bahwa nanti sang suami akan menjemput Hanum dan berduaan dalam mobil yang baru saja mampu mereka beli tanpa dia bisa berbuat apa-apa.
Tiap kali Ratih membicarakan hal itu justru Rudy marah dan berkata, “Sudah pokoknya Umi turutin aja kata Abi gimana, gak usah ganggu-ganggu urusan Abi.”
Tiap malam shalat Tahajud dilakukan Ratih untuk mengadukan perasaan dalam dada yang seperti sesak menahan sedih, do’a dipanjatkan agar sang suami menyadari kesalahannya dan meninggalkan Hanum yang usianya 7 tahun lebih muda dari Ratih. Akan tetapi walaupun berbagai usaha untuk mencegah hal itu lebih jauh telah dilakukan melalui mentor agama, ancaman dari orang tua Hanum dan Rudy yang menentang anaknya untuk berpoligami dengan cara seperti itu, tetap Rudy dan Hanum bertekad untuk menikah siri. Sang suami yang nota bene seorang yang memiliki pengetahuan agama baik, meminta sang istri untuk menerima hal itu. Ratih yang hanya seorang ibu rumah tangga tak berpenghasilan, tak memiliki keturunan yang bisa memperkuat ikatan dengan suaminya agar sang suami mau meninggalkan selingkuhannya hanya bisa pasrah, meski dia selalu mengatakan tak ridho pada suaminya jika bertindak seperti itu. Dia hanya memikirkan anak angkat yang diambilnya 5 tahun lalu, yang kini menjadi penghiburnya saat duka.
Meskipun berbagai pihak menentang mulai dari Ibu mertua Ratih, Ibu Hanum yang juga marah pada Ratih yang menurutnya membiarkan saja Rudy bersikap seperti itu ,rekan sejawat di kantor, mentor agama, maupun para sahabat keluarga, sang suami tetap melaksanakan niatnya dengan resiko dia keluar dari pekerjaannya kini dan di ultimatum sang ibu untuk tidak pernah membawa wanita itu ke rumahnya.
Ratihpun kembali menelan kekecewaan dengan tindakkan suaminya yang tetap memaksanya dengan alasan sang suami yakin ia akan mampu memberikan keturunan pada Ratih dengan cara ini.( Menurutku gak nyambung amat sih? Antara tujuan dan cara tak ada korelasinya)
“Aku tidak anti poligami, Sa, tapi aku tak suka pengkhianatannya” ujar Ratih emosi.
“Kini yang kulakukan hanya “berusaha menikmati” saat-saat aku sama dia, meskipun hati hancur, tapi tiap dia pulang ke rumah kusambut dengan senyum, Sa” Ratih berkata padaku saat itu, tanpa linangan air mata yang mungkin akan terjadi padaku jika aku jadi dia.
“Sekarang tiap malam kita seperti pengantin baru lagi Sa”,sambung Ratih lagi dan ini membuatku tersenyum.
“UStadku juga sudah menyarankan aku , supaya aku tinggalin dia, biar dia tahu rasanya kehilangan aku, tapi aku gak bisa!” Ratih berkata sambil menggelengkan kepalanya.
“Waktu aku bicara sama beliau tentang itu, dan aku tanya apa ini karena cinta, dia bilang ini bukan cinta, tapi ini karena aku lemah Sa. Aku memang bodoh banget, dan aku tahu ini bukan diri aku yang sebenarnya, aku bukan orang seperti ini”,masih tanpa air mata Ratih berkata.
“Adikku juga bilang, supaya aku tinggalin aja orang kayak gitu, emangnya gak ada yang lain yang mau sama aku, tapi dalam hati aku , siapa yang mau ya?” ujar Ratih tapi kali ini dengan senyum.
“Sekarang aKu cuma berfikir , daripada aku stress, menangis terus dan merana terus, lebih baik menikmatinya aja. Kalau aku yang stress, yang untung kan perempuan itu.”
“Stress bisa jadi penyakit Sa, aku gak mau sakit karena pengkhianatan ini, ntar keenakan mereka rugi di aku ” Ratih berkata dengan semangat sambil menunggu responku.
Aku hanya diam tak komentar tapi dalam hatiku, lemah sekali kamu Ratih masih tetap tinggal dengan orang yang sudah berbuat maksiat dan tetap bersikap manis padanya.Tapi aku juga berfikir kuat sekali kamu Ratih menahan sakit yang begitu dalam demi keutuhan keluargamu.
Menurut pembaca sebagai seorang sahabat apakah salah jika saya berdiam diri dengan tidak mengatakan, “Kamu perempuan bodoh dan lemah Rat, seharusnya kamu tinggalkan dia , yakinlah kamu bisa mandiri tanpa suamimu”.
Atau berkata pesimis, “Ya Allah Ratih, kalau aku jadi kamu mungkin aku dah gila dan linglung Rat!”
Atau juga berkata lebih kejam,”Seharusnya kamu yang menuntut hak kamu sebagai seorang wanita subur untuk bisa diberi kesempatan memberikan keturunan, tapi bukan dengan laki-laki infertile seperti suami kamu. Harusnya suami kamu memberikan kesempatan itu dengan menceraikan kamu!”
Lalu bisa juga disambung dengan kata-kata berikut,”Jika sekarang kamu yang bermasalah tentang kemampuanmu untuk bisa hamil, insya Allah kamu akan merelakan Rudy kawin, lagikan? Nah kalau sebaliknya apa masuk akal kalau justru dia yang kawin lagi supaya kamu bisa hamil? Toh kamu gak keberatan kalaupun Rudy gak bisa membeir kamu keturunan dan anak bukannya satu-satunya tujuan sebuah pernikahan kan?”
“Sekarang kalau setengah pria infertile berkeyakinan seperti suamimu, berapa banyak wanita-wanita subur harus dikorbankan untuk bisa memenuhi ambisi memiliki keturunan sendiri?” kata-kata itu mungkin juga pantas kuucapkan pada Ratih.
Semua kalimat itu tak kuucapkan hanya kupendam saja untuk tetap menyemangati Ratih dengan pilihannya. Apa hak saya merusak “kenikmatan dipoligami” yang saat ini dia katakan sedang dia “rasakan” . Meskipun dikatakannya hatinya hancur. Mungkin seperti buku yang pernah selintas kubaca “Bagaimana mengubah rintangan menjadi menjadi sebuah kesempatan”, ini mungkin hal yang sedang dipraktekkan Ratih dalam kehidupannya. Ditengah kemustahilannya mencapai kenikmatan dengan pengkhianatan suami serta dipoligami dia justru telah mencapai hal itu.Jika dengan itu dia bisa bertahan , kenapa harus kulemahkan usahanya? Aku juga membayangkan bagaimana jika aku jadi Ratih, dengan kondisi seperti itu, apa yang akan kulakukan?
Jika aku di posisi yang sangat lemah , tak punya anak sebagai ikatan emosi, tak punya penghasilan pula. Aku pasti bersikap pasrah seperti dia dan menerima rasa sakit itu, tapi tetap tersenyum dengan hati sakit mana bisa ? Aku pasti merasa jijik pada suamiku, aku juga pasti akan merasa terhina harus menerima pengkhianatan itu?
Ratihpun bilang sejak peristiwa itu dia tak mampu lagi menerima hiburan jiwa dari sang suami, rasa percaya dirinya runtuh,merasa tidak dicintai, merasa tidak dibutuhkan dan kepercayaan pada suamipun hilang. Tapi tetap dia bersikap seperti tak ada masalah dengan poligami seperti itu, tapi berapa lama?
Ratih merasa skenario-skenario tertentu akan kembali dilakukan oleh sang suami agar dari segi ekonomi tak terbebani walaupun menurut Ratih, Hanum tidak terlalu menuntut dari segi ekonomi karena dia memang berpenghasilan. Rudy meminta Ratih untuk berwiraswasta atau bekerja, katanya,”Biar ngimbangi suami gitu”.
Pembagian jatah juga kunjungan dari Ratih ke Hanum juga dirasakan mengurangi waktu silaturahim yang harusnya bisa dilakukan Ratih dan Rudy ke rumah orang tua Rudy.
“Dulu aja kita harus pandai-pandai bagi waktu untuk silaturahim, Abi. Apalagi sekarang istri 2”, begitu kata Ratih pada Rudy.
Tapi kita wanita, sesungguhnya apa sikap yang akan kita pilih untuk kita lakukan, bagaimana bertindak jika hal ini terjadi pada kita? Mungkin kita punya banyak plihan, tapi mungkin kita juga tak punya banyak pilihan, tergantung situasi dan kondisi.
Jika poligami itu didahului dengan perselingkuhan mungkin beberapa pilihan ini bisa kita amati untuk kita pertimbangkan:(mari kita menjiwai setiap kondisi tersebut karena sesungguhnya hal ini amat dekat dengan kita)
1. Jika kita punya posisi bargaining yang kuat minimal punya penghasilan meski tak punya anak dan tak sanggup sakit hati tiap hari, tentu berpisah adalah keputusannya,
2. Jika bargaining kita kuat karena punya anak dan berpenghasilan, tak sanggup sakit hati karena pengkhianatan, apakah anak akan membuat kita bertahan? Jika bisa, kita akan dituntut tegar demi keutuhan keluarga meski dengan contoh buruk sang pemimpin. Jika tak sanggup kita harus tegar berusaha menjadi single parent yang baik dengan menjadi tulang punggung keluarga tapi juga punya harga diri bahwa kita mampu bersikap tegas terhadap pengkhianatan.Bukankah ini contoh yang baik untuk dilihat para pria pengkhianat keluarga demi WIL, anak keluarga hancur.
3. Jika kita dalam posisi yang amat lemah seperti Ratih, bagaimana? Jika sanggup menderita batin silahkan ambil pilihan sama seperti Ratih “nikmati dipoligami” telan harga diri dan rasa benci karena tak bisa bersikap lebih tegas. Jika tak sanggup, angkatlah kepala ke depankan harga diri, yakinlah bahwa rezeki itu dari Allah semata bukan dari suami, dengan kita bersikap tegas terhadap pengkhianatan dalam posisi paling lemah ini tentu akan menjadi contoh yang baik bagi para kaum wanita bahwa “kami wanita yang memang paling lemahpundapat berkata seperti Ratih tapi diiringi dengan tindakan nyata: “Aku tak anti poligami tapi aku benci pengkhianatan karena itulah aku tak mau hidup dengan pengkhianat.”
Namun yang paling sulit jika suami hendak berpoligami dengan cara yang baik dan akan lebih membawa kebaikan, seperti jika kita mandul, sakit, kebutuhan untuk bisa berda’wah dengan cara itu lebih baik atau butuh “aspri” dibeberapa tempat sehingga mendukung da’wah atau usaha dan lain-lain tapi tentunya tanpa didahului perselingkuhan,(baiknya manusia itu relatif ya), bagaimana ? Karena sebaik2nya niatan dan cara berpoligami tetap rasa sakit bagi sang istri karena diduakan tetap ada, itu sangat manusiawi, tapi aturan Allah jelas dan Allah tak akan ikar janji, “Jadilah kamu orang yang sabar dan surga balasannya”.Juga hukuman Allah jelas bagi orang-orang yang sudah berbuat zhalim. Dan bagi wanita2 yang sudah terlanjur dipoligami yakinlah janji Allah dan hukuman Allah itu tepat , bersabarlah karena jika kalian dizalimi Allah bersama kalian selama kalian tetap beriman dan takwa.
Untuk yang sedang tidak dipoligami, sesungguhnya cinta itu harus dipupuk dan disiram, buatlah suami tercinta selalu hanya melabuhkan pandangannya dan hatinya padamu karena sejuk, santun dan cerianya para istri. Ini nasehat juga untuk diri sendiri loh….Namun saya bertanya pula adakah perempuanya yg berharap suaminya berpoligami????

Depok, 19 Maret 2009

( Do’a senantiasa kuberikan pada dikau Ratih-Ratih lain yang tetap menjadi tiang-tiang keluarga dan negara dengan segala beban berat yang kau sandang)