Mendesain rumah adalah mendesain sistem, begitu suami saya bilang. Sewaktu dulu memutuskan akan membeli tanah, kami memutuskan tidak memilih kompleks perumahan karena cita2 kami sama ingin rumah yg memiliki halaman yg lumayan luas dengan rumah yg kecil saja ,…cieeee kayak novel ajaaaa…
Keinginan itu tampaknya akan terwujud dengan kami memutuskan untuk membeli tanah yg menurut kami cukup luas (280 m2) di daerah Depok dekat kantor suami dan saya(dulu waktu masih kerja ). Dengan hati berbunga2 suami saya merancang-rancang bagaimana layout ruang dan fasad rumah kami nantinya. 1 hal yg saya dan suami tidak sejalan, suami ingin meminimalkan pemakaian lahan sementara saya anti rumah tingkat, keinginan saya didukung oleh budget kami yg mepet sehingga akhirnya rumah dirancang untuk 1 lantai dan hanya 3 tiang yg dipersiapkan untuk tingkat dengan perluasan kesamping. Maka dibangunlah rumah seluas 100 m2 termasuk terasnya. Bagian depan, belakang ,samping kiri dan kanan rumah dibiarkan bersisa untuk mempermudah sirkulasi udara dan pencahayaan. Ada carpot di depan rumah dan gudang untuk sepeda dan motor di samping kanan rumah. Di bagian belakang rumah tersisa halaman cukup luas untuk berkebun dan menjemur pakaian begitu juga samping kanan, kiri dan depan rumah, kami bebas menanam segala macam tanaman bunga di tanah dan pot.
Dengan anak 3 saat itu kami berfikir bahwa rumah tersebut sudah cukup ideal untuk kami, ada 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi . Kamar terkecil berukuran 3×3 dan terbesar 3×4 .
Akan tetapi selanjutnya keadaan berkata lain, kami masih di karunia 2 anak lagi, sehingga 7 kepala dalam rumah seukuran 100 m2 itu nanti akan terasa sesak. Di tambah lagi karena segala macam pohon buah ditanam dibelakang rumah mulai dari pepaya, srikaya, belimbing wuluh yg ditempeli anggrek, mangga sampai tebu dan jambu biji maka ruang jemur yg tadinya ideal kini terlalu rimbun, sehingga kegiatan menjemur pakaian pindah ke samping kanan rumah. Bahkan parahnya lagi di saat musim hujan bagian kanan rumah terlalu rimbun karena pohon rambutan dan belimbing tetangga menghalangi sinar matahari, maka kegiatan menjemur ganti ke depan rumah bagian kiri, bahkan sampai ke pagar rumah (masya Allah manusia rakus betul ya….) sehingga pemandangan sangat tidak menyenangkan. Di saat tetangga kanan rumah sudah menebang pohon rambutan dan belimbingnya maka menjemur kembali ke samping kanan rumah namun hal ini tidak diikuti dg indahnya pemandangan di depan rumah karena kini tetangga depan rumah yg menjemur pakaiannya di pagar kami :(….. Ingin ditegur tak enak, karena dulu kami juga begitu, dibiarkan pemandangan tidak sedap, serba salah….

Halaman dan Jemuran

Halaman dan Jemuran


Bertambahnya anggota keluarga juga menambah perbendarharaan sepeda yg kami miliki ,dari hanya 2 sepeda dan 1 sepeda motor , kini menjadi 4 sepeda dan 1 motor , sehingga motor yg seharusnya diparkir di gudang sewaktu malam sekarang naik tahta menjadi di ruang tamu. Kebayang gak siih!! saat suami ke kantor naik mobil dan lupa mengeluarkan motor saya harus terima tamu dengan motor di dalam rumah….., di tambah lagi dengan bertambahnya jumlah komputer di rumah dari yg semula hanya 1 desktop, kini ada printer, scanner, 2 laptop yg juga memenuhi ruang tamu… weleh….weleh…puadet sekualii ya,, padahal ruang tamunya hanya ukutan 3×3 ……..Maka 6 tahun setelah membangun rumah, kami berniat untuk merenovasinya untuk dibuat 2 lantai (akhirnya aku harus mengalah demi bumi yg aku sayangi)….
Kesimpulannya bahwa ternyata sistem yg kami bangun diawal telah dikacaukan dengan keadaan yg berubah seiring perubahan kebutuhan. Maka kini kami akan mencoba kembali membuat sistem baru yg akan mencoba menampung kebutuhan keluarga. Walau dengan segala keamburadulannya saat ini tetap saja “Home sweet home” …..Doakan ya….semoga terwujud.
rumah kanan

Gudang sepeda dan menara air


rumah belakang

halaman belakang rumah