Jika dalam literatur 2 yg kubaca black hole adalah suatu wilayah dimana ia memiliki gaya gravitasi yg sedemikian besar sehingga menarik apapun yg dekat dengannya , bahkan cahaya tak bisa menembusnya saking gelapnya …
Istilah balck hole ini juga saya pakai untuk wilayah2 di rumah dimana segala macam barang yg sudah dimasukkanditempat itu, akan sulit untuk mendapatkan barang itu kembali. Black hole yg pertama adalah lemari Faza anak saya yg kedua yg terkenal akan ketidak rapihannya mulai dari yg kecil sampai yg besar. Bakat tidak rapih dan sembrononya memang terlihat dari dia bayi, sewaktu baru belajar berjalan dia bisa menabrak apapun yg ada di dekatnya tanpa merasa sakit (mungkin tak sadar jika sudah menabraksesuatu) , mengambil barangpun begitu , dia hanya fokus pada barang yg akan diambilnya meskipun demi mendapatkan barang itu dia harus menjatuhkan barang yg lain, menginjak tubuh orang lain, atau harus menjatuhkan diri untuk mengambil barang itu.
Setelah dewasa mulailah terlihat perbedaannya dari kakak ataupun adiknya.
Lemari bukunya paling
“terorganisir” buku2 bercampur kertas, jungkir balik di rak bukunya, bahkan pernah saya lihat kertas LKS yg saya kira sampah di simpannya dengan meremas2nya terlebih dahulu baru dimasukkan ke dalam lemari bukunya, ketika saya tanya sampah apa yg dia masukkan ke lemari bukunya dia bilang itu LKS pelajaran sainsnya. (geleng2kepala).
Tapi black holenya bukan itu, lemari pakaiannya yg merupakan lemari 3 pintu di rancang khusus untuk dia dan Nadia (kakaknya). Dua bagian di kanan dan kiri dari 3 bagian lemari itu diperuntukkan untuk pakaian yg dilipat masing2 1 pintu untuk Faza dan Nadia. Sedangkan bagian tengah merupakan lemari gantung bersama.
JIka kita membuka 2 pintu lemari itu, akan terlihat perbedaan yg sangat mencolok dimana lemari Nadia tersusun rapi antara baju rumah dan baju pergi , antara bawahan dan atasan antara pakaian dalam dan jilbab. Sementara jika kita buka lemari Faza tak akan nampak apakah itu bagian baju sekolah/pergi dan baju rumah, jilbab atau baju dalam, karena semuanya tergulung2 seperti baju baru dikeringkan di mesin cuci….bahkan tidak terlihat kalau baju2 tersebut “pernah” disetrika
Nadia sering mengeluh karena kadang Bu Yam (tetangga yg membantu menggosok di rumah) sering salah meletakkan pakaiannya ke lemari Faza, dan untuk melacak baju tersebut sangatlah sulit karena itu tadi campur aduk tak keruan …..dengan kata lain kalau sudah masuk ke sana wassalam.
Bukannya tidak pernah dirapikan, kami (saya dan eyangnya) sering kali membereskan lemari Faza, akan tetapi tak sampai seminggu sudah kembali ke kondisi awalnya ….
Black hole yg ke 2 adalah container plastik yg berisi segala macam mainan, sampah mainan dan barang2 kecil yg menurutku sampah tapi menurut anak saya yg ke 3 dan 4 adalah mainan, tahu sendirikan… , puzzle2 yg tak lagi lengkap, crayoon yg tinggal seujung kuku, mainan jerapah yg tak punya kepala, ataupun Harimau yg tak punya kaki, mobil2 an yg tinggal rangka bodynya saja, atau malah kereta api yg tinggal rel-ya saja, ataupun penghapus pensil yg masih terpakai , sobekan buku, brosur makanan siap saji, cermin kecil, atau sisir yg sering kami pakai….bahkan tas2 pinggang yg sering dipakai piknik dlln. Sering aku mencoba menyortir sampah2 itu agar tak memenuhi kontainer tapi selalu mereka katakan “Iiiih Mama ini jangan dibuang kan masih kepake!”
Karena mereka berdua sering memainkan barang yg bukan mainan juga maka sering barang2 seperti steppler, rautan, sisir, gunting, gunting kuku, selotip, lak band dan tassel gordyn masuk ke dalam kontainer itu. Dan dengan segala macam sampah yg ada di dalamnya walhasil sgtlah sulit melacak kembali keberadaan benda2 tersebut jika sudah masuk ke black hole yg ke 2.

The owner of Black Hole 1

The owner of Black Hole 1

Para Pemilik Black hole 2

Para pemilik Black hole 2