Hari kamis atau Selasa beberapa bulan yg lalu kami terheran-heran ketika kami lewat daerah Radio Dalam pada pukul 10 pagi jalan sangatlah lengang. Tak ada kepadatan yg biasanya terjadi di jam2 itu.
Pulang siang harinya jam 13 siang situasi masih sama sehingga kami tiba di rumah lebih cepat dari biasanya. Dan kami baru sadar setelah mendengar berita di TV bahwa hari itu adalah hari Bumi, ola laaa….:).
Mungkin ya, jalan menjadi sepi karena ada kebijakan untuk tidak berkendaraan hari ini, sehingga jalan menjadi begitu lengang, tapi sungguh indah jika hari ini terjadi tiap hari. Udara tidak begitu terpolusi, juga tidak macet , benar2 nyaman bahkan untuk berjalan kaki….
Bicara tentang bumi, pernah diulas bahwa beberapa tahun lagi (saya lupa berapa tahun ya…) jakarta akan kehilangan air bersih karena sumber air telah terkontaminasi dan terjadi perembesan air laut karena sumber2 air tanah di jakarta telah dikuras tanpa bisa terisi kembali sehingga yang mengisi justru air asinnya.
Ditambah lagi wilayah2 yg harusnya menjadi resapan seperti Bogor dan Depok telah banyak dialihkan peruntukkannya, bertambah sedikitlah air hujan yg bisa diserap bumi.
Terkontaminasinya air di Jakarta memang terbukti, coba jika anda jalan-jalan ke pasar baru , kemudian ada sebuah masjid dekat daerah tersebut yg jika anda menumpang sholat di sana maka saat wudhu yg terasa adalah air yg berasa asin. Kemudian juga di daerah Cililitan jika kita buka kran untuk wudhu di sebuah masjid di sana maka akan kita lihat air yg tercampur busa-busa detergen. Mengerikan bukan??….
Apa yg bisa kita lakukan untuk mencegah hal itu agar tak bertambah parah? Kami sendiri yg tinggal di daerah Depok berusaha menampung setiap tetes hujan yg jatuh dengan membuat sumur resapan hujan. Hal ini juga dilakukan agar air hujan tdk berkeliaran di jalanan rumah yg kebetulan lingkungannya tak memiliki got untuk pembuangan atau air hujan ( ndesit skali ya….resiko tinggal di kampung). Tapi minimal kami berusaha mengemballikan kembali air hujan ke dalam tanah, nabung getoooh…..
Sebenarnya ada beberapa teknologi yg telah banyak digunakan untuk mengolah sendiri air limbah rumah tangga, hanya memang teknologi ini membutuhkan daerah bukaan yg cukup luas seperti waste water garden (wwg) , susah diterapkan pada lahan sempit. Bisa juga dibuatkan pori-pori tanah untuk lahan yg sempit, di sekitar lingkungan rumah kami juga pernah dicoba dibuatkan pori2 tanah yg dalamnya sekitar 80 cm dan diameter 7-10 cm tapi jadinya tertutup sampah2 plastik (lagi2 mentalnya orang Indonesia, tak bisa jaga kebersihan). Tapi untuk kita yg peduli mulailah dari hal kecil dulu dg tidak menutup semua permukaan tanah di rumah dengan bangunan biarkan tanah menyerap airnya kembali………

sumur resapan

Di sekeliling rumah ada bis beton yg menampung air hujan untuk dialirkan ke sumur resapan dibelakang rumah