Berikut ini hanya ingin share rumah limasan kakek di yogyakarta , yg menjadi salah satu pendorong kami untuk merenovasi rumah dengan kayunya sebagai bahan kusen, sayang sesungguhnya karena kami tak bisa memindahkannya tapi hanya bisa menggunakannya sebagai kusen, nasibmu limas……
Rumah limasan ini menyimpan banyak kenangan indah masa kanak2 saya, kakak dan adik . Dalam limasan yg ruangannya berukuran 8 x 11 m2 ini dulu terdapat bale2 besar yg biasa kami gunakan untuk tidur bersama sepupu2 kami, bale2 itu dalam pandangan saya saat itu adalah bale2 yg sangat besar karena mampu menampung sekitar 6 orang tanpa berdesak2an. di pojok ruangan juga terdapat kotak yg menyimpan wayang kulit dg berbagai tokoh. Dibawah kotak wayang terdapat gamelan yg biasa digunakan untuk acara2 pesta tertentu di desa. Tapi sekarang tinggal memory….
Karena sang pemilik Limas (Kakek kemudian Ayah saya) telah wafat maka generasi ke tiga tidak ada yg bisa melestarikannya, jadilah nasib si limas berakhir menjadi kusen di tangan kami…

Pemilik Pertama Rumah Limasan (Alm. Kakek)

Pemilik Pertama Rumah Limasan (Alm. Kakek)


Tampak Luar Limas

Tampak Luar Limas


Ternyata lebih mahal menggunakan bahan bekas karena banyak komponen yg jadi terbuang….

Tiang-tiangnya yg paling besar berukuran 16×16 cm, ditangan kami hanya jadi kusen pintu dan jendela.

Tiang limasan

Tiang limasan

Balok ukuran 10 x 10 cm hanya jadi daun jendela , baluster dan konsol…

Balok atas 16 x 12 cm paling bagus ya cuma jadi kusen saja..

Balok atas 16 x 12 cm paling bagus ya cuma jadi kusen saja..

Kayu kaso dan reng , mlintir sana dan sini, juga melengkung mungkin kembali jadi kaso dan reng atau parket.

kaso

Kaso dan reng

Trompol kata orang Jawa, menurutku dinding dan pintu dari papan dan tiang kayu, berubah jadi apa ya?…..mungkin lemari buku or kitchen set if anggaran masih ada atau di periode ke 2 kali yeeee….

Trompol

Trompol