Akhir pekan lalu kami sekeluarga plus eyang putri jalan-jalan ke Lembang. Jam 6 berangkat dari Depok dan sekitar jam 10 lewat sampai di Bosscha dengan catatan mampir-mampir dulu di 1 rest area dan sedikit belanja di minimart di pinggiran Bandung. Sampai di Bosscha kami sudah terlambat 30 menit dari rombongan yang jam 9.30 pagi, jadi langsung nyusul saja, sehingga kami hanya kebagian sedikit penjelasan tentang teropong yang ada di Gedung beratap bundar itu loh, penjelasan sepertinya diberikan oleh fresh graduatenya Astronomi ITB dan setelah dari sana ada ruang multimedia dimana kita dijelaskan mengenai susunan tata surya dan jarak2 antara galaksi2 yang ada di luar angkasa dengan bumi.
Setelah dari Bosscha, makan siang di Rumah Strawberry chek in di villa sorenya sekitar jam 4 kita jalan ke Curug cimahi yang jaraknya sekitar 2 km dari villa, smapai di sana kami baru tahu bahwa untuk bisa sampai ke curug harus turun tangga sebanya 560 anak tangga, jadi si Papa berunding siapa yang sanggup turun dan siapa yang kira2 kalau ikut akan mungkin menjadi beban untuk naiknya kembali. Eyang putri langsung bilang kalau Eyang si nggak masalah , yang kami cemaskan fakhri 8 tahun dan Hana 5 tahun yang kami prediksi mnungkin akan jadi beban jika nanti minta gendong, karena si bungsu 2 tahun sudah pasti harus di gendong. Sementara 2 teratas Nadi a15 tahun dan Faza 10 tahun kami yakin sudah bisa bertanggung jawab jika sudah menyatakan sanggup.
Akhirnya dengan semangat kami mulai menuruni 560 anak tangga tersebut . Sepanjang perjalanan turun kami bertemu beberapa orang yang naik, ada sepasang suami istri 50 tahunan yang bercucuran keringat dan terengah-engah sambil bersandar di railing tangga, dan bilang belum separuh perjalanan naik. Ada rombongan anak muda ditangga yang lebih ke bawah mendaki dengan mengeluh dan berpeluh yang juga membuat nyali kami ciut. Tapi yanng paling menciutkan nyali ketika serombongan gadis remaja di anak tangga yang lebih bawah lagi bertegur sapa dg rombongan kami dan juga berpeluh serta terengah-engah berkata, “Ibu jangan turun ke bawah deh, takutnya nanti gak bisa naik”.
Sesudah mereka berlalu Eyang berkata, “Anak muda bukannya memberi semangat malah mematikan harapan !”
Aku yang sedari tadi sudah memohon untuk bisa menunggu di kira2 3/4 jalan juga turut menggoda Eyang , untuk berhenti sampai di sana. AKu, Eyang dan si bungsupun berhenti di tangga yang kira-kira masih kurang 50-60 step lagi. Dari sana kami mengawasi 5 orang yang turun sampai ke air terjun. Saya memperhatikan Hana dan fakhri yang begitu riang main air di kolam di mana air terjun itu tumpah. Tinggi air terjunnya katanya sekitar 350 meter, bisa dilihat energi potensial yang dimilki air terjun setinggi itu membuat daun -daun disekiutar curug tersebut bergoyang-goyang terkena angin yang ditimbulkan akibat kecepatan turun air tersebut Ep = mgh v=V2gh, v=v2.9,8.350 m berapa coba hitung sendiri.
Setelah cukup lama Papa, Nadia , Hana , Faza dan Fakhri main2 di air terjun kami putuskan untuk segera naik karena hari sudah menjelang sore. Semula saya khawatir Hana atau Fakhri akan kesulitan untuk naik ke atas. Tapi ternyata 2 orang tersebut adalah yg pertama sampai di atas , mendaki 560 anak tangga tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan karena terlalu lama menunggu yg lain di puncak tangga, mereka kembali turun untuk menjemput kami yang masih terseok2 di bawah. Subhanallah anak2 itu kecil2 kuat juga malah kakak2nya yang loyo dan sering berhenti untuk tarik nafas.
Kesimpulannya jangan remehkan segala sesuatu yg kelihatannya lemah sekilas lihat padahal justru bisa jadi yg kecil itu malah lebih kuat.🙂. Kami semua terkagum2 dengan kekuatan Hana dan Fakhri dan bersyukur ternyata gak percuma kegiatan bermain fisik yg sering mereka lakukan karena menjadikan mereka terbiasa dengan aktifitas fisik yg berat seperti ini..