Sejak mulai sekolah di Play Grup, Hana , putri ku yg ke 4 tak pernah mau menggunakan jilbabnya. Jangankan jilbab, seragam muslimah yg disediakanpun tak pernah mau digunakannya kecuali pakaian olah raga, karena yg ini netral (pria wanita sama kecuali jilbabnya). Apakah dia tomboy saya sendiri tidak menilainya begitu, memang pilihan modenya sangat maskulin, sejak usia 2 tahun tak mau lagi pakai dress. Waktu Ultah yg ke 3 dia diberi hadiah Tantenya batik dress model balon yg sedang trend, dia menangis waktu saya memakaikannya, sejak itu baju2 perempuan turunan kakak-kakaknya tak pernah lagi digunakan. Bahkan untuk sholat dia tak mau menggunakan mukena !! Dalam hal pilihan mainanpun dia lebih suka main mobil dan robot, boneka tak pernah disentuhnya. Jika menggambarpun yg digambar selalu mobil dan rumah, tak pernah sekalipun menggambar bunga. Saya lebih melihatnya sebagai pengaruh dari kakak laki-laki di atasnya, mereka berdua sangat kompak (mungkin dari segi usia yg lebih dekat 3 tahun) sementara dengan 2 kakak perempuan yg lain Hana tidak sering bermain bersama.
Pilihan teman mainpun begitu juga, dia tak pernah mengajak teman perempuannya main, yg dia panggil hanya teman2 laki2 saja, walaupun kadang dia juga bermain dengan yg perempuan juga. Permasalahan timbul saat dia mulai sekolah di TK, berbagai macam analisis dan saran diberikan baik dari guru sekolah , pengurus yayasan sekolah dan psikolog sekolah karena melihat kondisi Hana yang seperti itu. Ada pula orang tua murid lain yg menyapa, kenapa Hana tak pernah mau menggunakan seragam , saya hanya menjawab Hana belum mau sambil memberi kode, agar pertanyaan jangan dilanjutkan.
Pada awalnya ada guru yg selalu bertanya ke Hana mana jilbabnya, tapi lama-kelamaan bosan barangkali, ditambah lagi di sekolah Hana juga tak banyak bergaul dengan teman2 perempuannya juga jarang bicara?? (hal ini yang paling mengkhawatirkan saya), Hana belum bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik, dia hanya menangis, senyum ataupun cemberut sesuai dengan suasana hati, tanpa bisa mengatakan dengan kata-kata. Padahal di rumah dia pandai bernyanyi dan periang.
3 tahun selama di TK (PG, TK A dan TK B) dilaluinya seperti itu, hanya dalam urusan interaksi dengan teman dia banyak kemajuan, meskipun masih selalu dengan teman laki-laki bahkan di kelas sebelah… tapi dengan bu Guru dia masih agak sulit berkomunikasi. Sampai suatu saat ketika sekolah akan membuat foto untuk sertifikat, disini saya jadikan momentum untuk dapat membujuk Hana menggunakan jilbab dengan mengatakan jika Hana tidak pakai jilbab nanti tidak bisa difoto, lalu ijazahnya diisi foto siapa, lulusan TKIT kan harus difoto berjilbab. Di sini dia baru mau menggunakan seragam putri lengkap dengan jilbabnya meskipun sampai di sekolah matanya berkaca-kaca dan tak mau lepaskan tangan saya, saya fikir anak ini masih malu, sehingga menangis. Tetapi dengan bantuan gurunya yang seolah-olah tidak heran karena Hana mau berjilbab, Hana mau lepas dari genggaman saya walaupun masih berlinang air mata.(sang guru akting dengan wajar seolah2 Hana pakai jilbab sudah biasa).
Setelah hari itu subhanallah, Hana tak pernah lepas dari jilbabnya bahkan ketika kegiatan outbond , saat anak2 perempuan lain ada yang merengek minta lepas jilbab dia kukuh bertahan dengan jilbabnya, para guru sampai kagum.. (menurut cerita seorang guru, guru2 TK A dan TK Bnya sampai sujud syukur karena senangnya Hana mau berpakaian muslimah).
Di hari pelepasan lulus TK pun baru kali ini saya menitikkan air mata haru, dari 4 anak yg sudah saya lepas di TK baru kali ini saya menangis bahagia mengingat perjuangan Hana selama di TK, semoga manjadi anak yang selalu istiqomah dan berani ya Hana, bungaku yang cerdas….amiin
Hikmahnya untuk menghadapi anak2 dengan berbagai karakter, kita harus sabar dan berdoa, jika semua usaha telah kita upayakan tapi belum berhasil. Memang sulit, tapi untuk anak2 yang lain sayapun sedang berusaha selalu bersabar karena Allah juga menganugrahi saya dengan lima anak yang punya karakter2 unik dari masing-masingnya….semoga selalu diberkahi kesabaran, kesehatan untuk mendampingi anak2ku.

………Sembilan bulan berikutnya….

Hana di kelas 1 SD semester 2, tidak lagi selalu bermain dengan teman laki-laki, tapi teman perempuan, bahkan ada 1 orang yang cukup akrab. Mulai di hari pertama sekolah sampai saat ini , tak ada perlawanan atau keberatan sedikitpun dalam hal berseragam muslimah. Meskipun tergolong anak kalem tapi interaksi sosial dengan teman-temannya menurut gurunya baik (Alhamdulillah). Han, semua itu indah pada waktunya ya….

artikel selanjutnya tentang anak yang mengalami gangguan selective mutism..

Hana (tengah) dengan pakaian perpisahan di TK

Hana (tengah) dengan pakaian perpisahan di TK


Hana jalan-jalan ke Jogja dengan Papa.

Hana jalan-jalan ke Jogja dengan Papa.